Menjadi Gaya Hidup, Kopi Nusantara Semakin Digandrungi

Menjadi Gaya Hidup, Kopi Nusantara Semakin Digandrungi

Minum kopi kini menjadi gaya hidup, terutama bagi generasi muda. Bisnis kedai kopi pun makin menjamur. Bahannya mulai banyak menggunakan biji-biji kopi Nu

Minum kopi kini menjadi gaya hidup, terutama bagi generasi muda. Bisnis kedai kopi pun makin menjamur. Bahannya mulai banyak menggunakan biji-biji kopi Nusantara. Tak ayal, kopi Indonesia semakin harum namanya, di dalam maupun luar negeri. Bahkan, sejak tahun 1970an, Agrofarm mencatat Indonesia telah memasok biji kopi ke salah satu kedai kopi ternama asal AS yang memiliki jaringan internasional. Beberapa kopi yang terkenal hingga ke luar negeri di antaranya kopi Gayo, kopi Toraja, kopi Bali, dan kopi Papua. Prestasi tersebut terus menanjak hingga Indonesia masuk peringkat empat sebagai negara eksportir kopi terbesar di dunia pada musim 2016-2017. Nama kopi Indonesia pun semakin terkenal. Daya tarik kopi Indonesia sendiri, salah satunya, keragaman rasa dan aroma. Masing-masing jenis kopi yang ditanam di daerah berbeda punya cita rasa berbeda pula. Ada yang kuat aroma rempahnya, ada pula yang lebih ringan dengan aroma buah yang sama-sama sedap di lidah. Produksi kopi Indonesia Seiring meningkatnya tren kedai atau kafe kopi lokal, permintaan akan produksi kopi Tanah Air pun kian tinggi. Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Pranoto Soenarto mengatakan pertumbuhan kopi meningkat 8 persen per tahun. "Dulu beberapa tahun lalu konsumsi kopi per kapita Indonesia hanya 0,8 kg atau 800 gram setahun. Sekarang sudah mencapai 1,5 kilogram per tahun. Artinya konsumsi kopi ini terus meningkat," kata Pranoto seperti dikutip dari Detik Finance, Rabu (05/07/2017). Artinya, dalam satu tahun orang Indonesia bisa meminum hingga 1.000 cangkir kopi atau rata-rata 2-3 cangkir sehari. Perhitungannya, satu cangkir kopi kira-kira membutuhkan 10-15 gram kopi. Meski demikian, konsumsi kopi dalam negeri ternyata belum semasif Jepang atau Malaysia yang bisa mencapai 4 kilogram per kapita per tahun. Memang, hasil produksi kopi Tanah Air masih lebih banyak diekspor. “Dari sebagian besar produksi kopi lokal yang mencapai 630.000 ton setiap tahun, sebagian besar masih untuk ekspor sekitar 500.000 ton setahun," ucap Pranoto masih Namun, konsumsi nasional pasti akan terus tumbuh seiring maraknya gaya hidup nongkrong sambil minum kopi. Peluang untuk meningkatkan konsumsi domestik pun masih terbuka sangat lebar. Oleh karena itu, produksi kopi Nusantara harus ditingkatkan demi memenuhi pertumbuhan permintaan tersebut. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian, salah satunya, menyatakan tengah menyiapkan beragam program. Pemerintah berencana meningkatan produktivitas kopi melalui program pembibitan, pemupukan, water management serta replanting dengan mengganti kopi yang sudah tua. Tak hanya itu, pemerintah juga tengah membenahi kebutuhan logistik untuk mendukung stabilitas harga produk pertanian dan perkebunan, termasuk kopi. Pasalnya, logistik memiliki peran sentral dalam pengiriman bahan baku dari petani sampai ke tangan pelaku usaha. Pernyataan ini turut terlampir dalam kajian Kementerian Dalam Negeri. Oleh karena itu, jasa logistik seperti SELOG sangat dibutuhkah untuk mendukung kebutuhan tersebut. Salah satu anak perusahaan PT Serasi Autoraya (SERA) ini memberikan layanan jasa logistik terbaik dengan jaminan keamanan, tepat waktu, dan barang dijamin sampai ke tangan pembeli tanpa cacat. Bisnis kopi pun akan semakin menjanjikan dengan kemudakan jasa logistik seperti yang ditawarkan SELOG. Dengan begitu, cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia akan semakin nyata.

Share this:

Artikel Selanjutnya

Tag

© Copyright PT Serasi Autoraya 2026