Peran Logistik dan Tol Laut di Balik BBM Murah Papua

Alat transportasi punya fungsi yang sangat vital terutama jika dikaitkan dengan fungsinya dalam mengantarkan kebutuhan di kawasan yang jauh dari sentral. Fung
Alat transportasi punya
fungsi yang sangat vital terutama jika dikaitkan dengan fungsinya dalam
mengantarkan kebutuhan di kawasan yang jauh dari sentral. Fungsi ini
tergambarkan pada bagaimana harga bahan bakar minyak (BBM) kendaraan bermotor
yang tercatat di Papua.
Di wilayah ujung timur di
Indonesia itu, seperti dikutip dari Kompas.com,
harga BBM di sejumlah kabupaten terpencil berubah drastis dari semula Rp
60.000-Rp 100.000 menjadi sama dengan Pulau Jawa, yakni Rp 6.450 per liter.
Salah satu cara pemerintah
menurunkan harga BBM di Papua adalah dengan memanfaatkan pesawat angkut BBM
yang dibeli oleh Pertamina dengan biaya sekitar Rp 800 miliar. Melalui cara
itu, BBM yang selama ini disalurkan lewat jalur darat dan laut bisa disalurkan
melalui udara.
Biaya pembelian pesawat Rp
800 miliar saja menurut Presiden Jokowi dipastikan tidak membuat Pertamina
rugi.
"Tahun ini justru
saya perkiraan untungnya berlipat, lebih dari Rp 40 triliun," ucap Jokowi
di Jakarta, seperti dikutip dari Kompas.com,
Rabu (21/12/2016).
Melihat kondisi di atas,
biaya transportasi logistik tentu bisa lebih ditekan jika tol laut kelak
terwujud pada 2019, mengingat kapal laut dan alat transportasi darat bersifat
sebagai alat transportasi dengan daya angkut massal.
Apa Itu Tol Laut?
Tol laut adalah jalur
kapal-kapal besar akan berlayar menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama
Indonesia. Kapal-kapal ini berlayar secara rutin dengan rute masing-masing,
yang terjajar dari Sumatera hingga Papua, lalu kembali.
Pergerakan kapal yang
bersifat rutin dan titik-titik pelabuhan yang sudah ditentukan itulah yang akan
membuat transportasi logistik ibarat menggunakan jalan tol.
Kapal pun tidak kembali
dengan kosong usai mengantar. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan
akan mendorong pelaku usaha pertanian di daerah Timur Indonesia untuk
meningkatkan produktivitasnya.
"Kami juga akan
mendobrak pelaku usaha pertanian dari wilayah timur untuk menghasilkan barang
produktif yang bisa dibawa ke barat," ujar Budi Karya seperti dikutip dari
Kompas.com di Kempinski Ballroom Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu (9/11/2016).
Menurut Kementerian
Perhubungan, akan ada 24 pelabuhan yang terlibat dalam proyek tol laut. Lima
pelabuhan di antaranya akan menjadi hub (pengumpul), yaitu Pelabuhan
Belawan/Kuala Tanjung, Pelabuhan Tanjung Priok/Kalibaru, Pelabuhan Tanjung
Perak, Pelabuhan Makassar, dan Pelabuhan Bitung.
Sementara itu, 19
pelabuhan lainnya berfungsi sebagai feeder (pengumpan) bagi pelabuhan hub
adalah Pelabuhan Malahayati, Batam, Jambi (Talang Duku), Palembang, Panjang,
Teluk Bayur, Tanjung Emas, Pontianak, Banjarmasin, Sampit, Balikpapan/Kanangau,
Samarinda/Palaran, Tanau/Kupang, Pantoloan, Ternate, Kendari, Sorong, Ambon,
dan Jayapura.
Kapal yang digunakan
sendiri terbagi dalam tiga kategori. Kategori pertama adalah kapal berbobot
mati 15.000-40.000 deadweight tonnage (DWT). Kapal pengangkut kontainer itu pun
berkapasitas angkut 1.000-3.000 twenty foot equivalent unit (TEUs).
Kategori kedua adalah
kapal barang perintis setara 208 TEUs. Sementara itu, kategori ketiga adalah
kapal pelayaran rakyat.
Soal jumlah kapal, pada periode
2015-2019, kapal kategori 1.000 TEUs diharapkan terwujud sebanyak 46 unit,
kategori 3.000 TEUs (37 unit), dan kategori kapal barang perintis (26 unit).
Selain itu, akan ada pula 500 kapal pelayaran rakyat hingga 2019.
Dengan adanya langkah ini,
transportasi logistik terutama untuk jalur laut tentu diharapkan tidak hanya
membuat harga BBM di Papua menjadi setara Pulau Jawa, tetapi juga memengaruhi
harga kebutuhan-kebutuhan lainnya di daerah-daerah.
PT Serasi Autoraya
© Copyright PT Serasi Autoraya 2026



