Bagaimana Efek Terusan Kra Thailand terhadap Logistik Indonesia?

Kabar mengenai Terusan Kra di Thailand menghangat setelah adanya sejumlah informasi bahwa pembangunannya positif berlanjut. Yang menjadi perhatian dalam hal
Kabar mengenai Terusan Kra
di Thailand menghangat setelah adanya sejumlah informasi bahwa pembangunannya positif
berlanjut.
Yang menjadi perhatian
dalam hal ini adalah skema bahwa kapal-kapal logistik tidak lagi melewati jalur
di Selat Malaka di antara Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
Dengan demikian, Indonesia
sempat diprediksi akan turut menjadi korban atas keberadaan terusan tersebut.
Kapal-kapal yang biasa melewati Selat Malaka memotong jalur sehingga tembus
langsung antara Laut China Selatan dan Samudra Hindia.
Dalam hal ini, kanal
menghubungkan Laut Andaman dan Teluk Thailand melalui wilayah selatan di Negeri
Gajah Putih itu.
Rencana pembangunan kanal
Menguatnya rencana
pembangunan terusan yang terletak di Thailand selatan ini antara lain muncul
setelah adanya informasi dari Pakdee Tanapura selaku Direktur Internasional
Direksi Komite Eksekutif Internasional untuk Studi Proyek Terusan Kra di
Bangkok.
Pakdee seperti dikutip
Financial Times via The Independent Singapura menyatakan bahwa rencana yang
sudah ada sejak lampau, yakni tahun 1677, itu kini mendapat dukungan perusahaan
China.
“Kami cukup mendapat
dukungan besar dari grup perusahaan privat China (termasuk taipan telekomunikasi
Wang Jing), yang mendorong keras pembangunan kanal,” demikian seperti dikutip Financial
Times. Adapun Wang Jing merupakan CEO perusahaan telekomunikasi Beijing Xinwei.
Pakdee juga mengatakan,
rencana pembangunan kanal tersebut saat ini sedang dalam tahap kerja sama
dengan pemerintahan militer Thailand.
Selain itu, pergantian
raja baru Thailand, Vajiralongkorn Rama X, atas sang ayah, mendiang Raja
Bhumibol, menurut The
Independent Singapura, memperlebar kemungkinan kemajuan pembangunan kanal
ini.
Efek kanal terhadap Indonesia
Keuntungan secara general dari
pembangunan kanal ini adalah menghemat biaya operasional kapal pembawa
logistik. Dengan adanya kanal itu, menurut analisis jurnal perkapalan dan
perdagangan Springer
Open, kapal diperkirakan bisa menghemat jarak 1.200 km atau masa tempuh 2-5
hari dengan estimasi potong biaya hingga 350.000 dollar AS untuk kapal tanker
dengan bobot mati 100.000 deadweight tonnage (DWT).
Namun, kekhawatiran
tersebut perlu disikapi dengan melihat peta ekspor dan impor di Indonesia.
Sekalipun pelabuhan Batam menjadi wilayah yang bedekatan dengan Singapura
sebagai pelabuhan transit, menurut Kementerian
Perhubungan, ekspor-impor utama Indonesia dilakukan di pelabuhan hub
internasional di Kuala Tanjung (Sumatera Utara) dan Tanjung Priok (DKI Jakarta)
untuk kawasan barat, serta Pelabuhan Bitung (Sulawesi Utara) di kawasan timur.
Berdasarkan informasi Badan Pusat Statistik (BPS),
wilayah ekspor nonmigas terbesar Indonesia untuk data Februari 2017 adalah
China (1,36 miliar dollar AS), Amerika Serikat (1,36 miliar dollar AS), dan
India (1,02 miliar dollar AS).
Untuk impor selama Januari–Februari
2017, yang terbesar datang dari China (4,87 miliar dollar AS), Jepang (2,15
miliar dollar AS), dan Thailand (1,38 miliar dollar AS).
Berkaca pada data di atas, semua jalur ekspor
dan impor tidak melalui Terusan Kra, yang menurut perkiraan akan terletak di
wilayah Teluk Bandon dekat Surat Thani dan Phang Nga atau antara Nakhon Si
Thammarat dan Trang. Namun, rencana mengenai kanal yang diperkirakan sepanjang 50-100
km itu menarik dicermati, terutama bagaimana melihat betapa vitalnya unsur logistik,
terutama dalam perekonomian dunia.
PT Serasi Autoraya
© Copyright PT Serasi Autoraya 2026



