Mengintip Kebiasaan Menabung Masyarakat Indonesia

Masyarakat Indonesia cukup memiliki kesadaran tentang pentingnya menabung. Mereka menabung untuk mewujudkan beragam rencana finansial. Namun, seperti apakah keb
Masyarakat Indonesia cukup memiliki kesadaran tentang pentingnya menabung. Mereka menabung untuk mewujudkan beragam rencana finansial. Namun, seperti apakah kebiasaan menabung masyarakat Indonesia saat ini?Berdasarkan survei Markplus terhadap 4.378 netizen usia 15-59 tahun, lebih dari sepertiga responden rata-rata menyisihkan 5-10 persen pendapatan bulanan. Hanya sekitar 4-7 persen netizen mampu menabung lebih dari 20 persen dari total gaji.Meski demikian, semakin tinggi status ekonominya, semakin besar pula uang yang disisihkan untuk menabung. Sekitar 10 persen netizen dengan status ekonomi lebih tinggi dapat menabung lebih dari 20 persen dari pendapatan bulanan.Sementara itu, pada netizen dengan status ekonomi lebih rendah, hanya 5 persennya yang mampu melakukan hal sama. Pembagian status ekonomi ini adalah berdasarkan besaran pengeluaran rutin keluarga selama satu bulan.Orang yang memiliki pengeluaran lebih dari Rp5 juta per bulan masuk dalam kategori status ekonomi lebih tinggi, sedangkan pengeluaran antara Rp1 juta sampai Rp4,9 juta masuk kategori status ekonomi lebih rendah.Dari jumlah dana yang ditabung tersebut, mari kita mengintip lebih jauh rencana finansial mereka. Ditinjau dari tujuannya, sejumlah 60,9 persen netizen menabung untuk mengantisipasi biaya hidup di masa datang yang diprediksi akan semakin menanjak.Sementara itu, 61,2 persen responden juga mengaku menyisihkan pendapatan untuk investasi. Yang paling menarik, sekitar 24,1 persen netizen memiliki rencana finansial untuk persiapan liburan.Temuan tersebut nampaknya sejalan dengan pergeseran pola konsumsi masyarakat Indonesia. Menurut Dekan dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Ari Kuncoro, gaya hidup sebagian orang Indonesia memasuki tren baru. Masyarakat kini lebih suka jalan-jalan untuk mendapat pengakuan."Sekarang bukan zamannya lagi pamer barang baru seperti handphone atau baju baru tetapi orang lebih suka pamer foto liburan yang langsung bisa di-upload di media sosial mereka," ucap Ari, dikutip dari Detik Finance, Senin (14/08/2017).Pendapatan masyarakat kelas menengah, lanjut Ari, tidak mengalami kenaikan berarti. Tapi, pola konsumsi masyarakat bergeser dari barang ke liburan demi menunjukkan aktualisasi deiri mereka."Leisure, gaya hidup hedonis dan itu menjadi gaya hidup mereka," ujar Ari.Pergeseran pola konsumsi ini kemudian mendorong kemunculan bisnis-bisnis baru yang mengarah ke gaya hidup leisure. Bahkan, beberapa sektor industri tak ingin ketinggalan tren ini.Salah satunya adalah TRAC, anak perusahaan PT Serasi Autoraya (SERA) yang bergerak di bidang jasa penyewaan kendaraan. Sejak kemunculan tren tersebut, TRAC sudah merancang beragam layanan untuk mengakomodasi kebutuhan leisure domestik.TRAC tidak hanya menyewakan kendaraan untuk kebutuhan perjalanan, tapi juga merancang layanan yang menawarkan pengalaman liburan yang menekankan pada kemudahan, kenyamanan, dan keamanan.TRAC menyajikan beragam paket wisata ke berbagai destinasi unik di Indonesia. TRAC memadukan kemudahan transportasi dan pengalaman liburan yang nyaman.Dengan layanan tersebut, masyarakat pun memiliki opsi dalam mewujudkan rencana finansial untuk persiapan liburan yang nyaman dan aman bagi keluarga.
PT Serasi Autoraya
© Copyright PT Serasi Autoraya 2026



