Era Digital Mengubah Wajah Dunia Bisnis

Era Digital Mengubah Wajah Dunia Bisnis

Perkembangan teknologi informasi mengubah berbagai aspek kehidupan manusia saat ini, tak terkecuali dunia bisnis. Teknologi informasi mendorong kompetisi bisnis

Perkembangan teknologi informasi mengubah berbagai aspek kehidupan manusia saat ini, tak terkecuali dunia bisnis. Teknologi informasi mendorong kompetisi bisnis semakin ketat."Pelaku usaha yang tidak mampu atau bahkan tak mau melakukan transformasi bisnis, maka harus siap-siap menghadapi terjangan gelombang disrupsi," tulis Warta Ekonomi, Kamis (28/08).Roda bisnis global saat ini menuju ke arah inovasi bisnis digital. Untuk itu, perusahaan di Indonesia wajib bisa beradaptasi dengan transformasi digital.Sebetulnya, tulis Merdeka.com, Selasa (16/10), adanya disrupsi digital menjadi peluang bagi pelaku bisnis untuk terus berinovasi dan beradaptasi dalam menghadapi tantangan masa depan.Sebagai gambaran saja, dari perusahaan yang terdaftar Fortune 500 pada tahun 1955, hanya 60 perusahaan yang berhasil mempertahankan bisnisnya hingga tahun 2017. Artinya, "Perusahaan lain gagal beradaptasi serta berinovasi di tengah era transformasi digital yang mengutamakan power dan speed," tutur Country Manager ACA Pacific Indonesia, Wiranto.Maka dari itu, transformasi bisnis digital ini adalah keniscayaan bagi masa depan. Riset Microsoft dan IDC Asia/Pacific mengungkapkan, transformasi digital dapat melipatgandakan pendapatan di sektor manufaktur, demikian seperti dikutip dari Neraca.co.id, Kamis (18/10).Hal itu juga yang kini sedang digenjot Pemerintah Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 ini mencakup kecerdasan buatan, internet of things (IoT), wearables, robotika canggih, dan 3D printing."Indonesia akan berfokus pada lima sektor utama yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam sambutan "Making Indonesia 4.0" yang dikutip dari Kemnperin.go.id.Tren transformasi digital tersebut juga diterapkan IBID-Balai Lelang Serasi, lini bisnis PT Serasi Autoraya (SERA) yang bergerak di bidang lelang daring. Kini, IBID pun beradaptasi dengan perkembangan perilaku konsumen yang cenderung beralih ke belanja daring.Presiden Direktur IBID-Balai Lelang Serasi Daddy Doxa Manurung menegaskan sesuai amanat pemerintah melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, seluruh balai lelang diharapkan mulai masuk dunia digital. "Perusahaan balai lelang harus berani masuk ke-online, (bisnis dunia) digital tak bisa ditolak," ujar Doxa.Oleh karena itu, IBID mengembangkan sistem inspeksi mobil bekas. "Melalui sistem yang sudah dirancang, nantinya aplikasi tersebut sudah bisa menentukan grade atau rapor mobil bekas: apakah nilainya A, B, C dan seterusnya," kata dia.Menurut Doxa, sistem itu menjadi kunci balai lelang untuk bisa masuk dunia digital. "Jadi yang dari Papua, misalnya, tak perlu mengirim teknisi jauh-jauh dari sana untuk ke Jakarta mengecek mobil. Hanya tinggal melihat dari penilaian tersebut," ucap dia.Saat ini, layanan lelang daring IBID masih berbasis situs web, tapi nantinya akan bisa dilakukan melalui aplikasi berbasis Android dan iOS. Lebih jauh tentang IBID, Anda dapat membacanya di laman berikut ini atau mengakses media sosial IBID di Facebook, Twitter, dan Instagram.

Share this:

Artikel Selanjutnya

Tag